Kursi Bambu

August 20th, 2008 by umigita

Aku terdiam memandangi senja.
Matahari yang sedang terbenam selalu terasa syahdu bagiku.
Seorang
perempuan dengan usia yang sepadan denganku duduk di sebelahku. Dia juga sedang
memandangi senja yang sama.

Kami duduk di kursi bambu yang sama
pula. Kursi yang entah sudah sejak kapan bertengger di depan rumah mungil milik
Pak RT. Aneh, kursi bambu itu tak pernah lapuk dimakan waktu.

 

Aku sudah memutuskan untuk
mencintainya, ujarnya perlahan.

Hatiku seketika tegang dan
membeku. Sedikit kumelirik padanya. Sebuah wajah yang masih mantap diterpa
sinar orange matahari senja.

 

Apapun yang terjadi, aku akan
terus mencintainya,ujarnya kembali.

Hatiku lebih terkesiap bagaikan
dikejar oleh serigala malam. Kuhembuskan nafasku. Kugigit bibir bagian bawahku.

 

Sebuah realita yang sulit
kuterima.

 

Aku akan berusaha menjadi
kekasihnya, ujarnya kembali.

Hatiku tak kuat lagi tuk tegang,
membeku ataupun terkesiap. Cahaya senja ini terasa tak lagi hangat menyapa,
namun panas! Membakar wajahku.

 

Tapi, mengapa ia tak begitu
mengubrisku. Dia menghiraukanku, ujarnya kembali.

Hatiku luruh tak menentu.
Sedikit kumelirik padanya. Sebuah wajah ayu nan penuh semangat akan gairah
cinta masa muda.

 

Tak jadi masalah, aku akan terus
mengejar cintanya, ujarnya kembali.

Hatiku luluh nan lembut.
Kuterawangkan wajahku menghadap matahari senja. Esok matahari itu mungkin masih
akan muncul, hanya saja ia sudah berganti nama:

Fajar.

 

Waktu telah berubah. Walau tak
jauh dari hitungan matematika. Matahari itu bernama fajar. Dan keadaanku pun
akan berubah.

Aku akan pergi dari tempat ini,
pamitku pada perempuan itu.

Akan kemana? tanyanya padaku seraya
beranjak dari kursi bambu.

Mungkin kau tak tahu, aku akan
pergi jauh, aku ingin belajar di Vienna., jawabku.

Selangkah demi selangkah aku
menjauhi perempuan itu, membelakangi matahari fajar.

 

Apakah kau akan kembali kesini?
teriaknya dari kejauhan.

Aku menolehkan kepala dan
sedikit pundakku. Aku tersenyum padanya dan berkata:

”Ketika aku kembali nanti, kau
sudah bahagia dengan laki-laki itu.”

 

Akupun kembali pada arahku. Aku
akan menuju dunia bagian barat sedikit ke utara. Dan entah kapan akan kembali
ke tempat itu. Aku telah membohongi perempuan itu.

 

Maaf.

 

Kamar gadis basa, 20 Agustus
2008

Sayup-sayup tengah malam

Penantian 2013

August 20th, 2008 by umigita

Seketika aku terbayang buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Seminggu yang lalu, aku bertemu dengannya di Tibet.
Ternyata ia sudah mendapatkan mimpinya tuk tinggal di desa tertinggi, Kye Gompa.

Aku menelan ludah dan mengurut kepalaku yang begitu terasa sakit.
Ini bukan sakit kepala biasa.
Sudah sebulan ini pekerjaan di UNDP membuatku muak. Aku terus saja beradu mulut dengan bosku tentang konsep pendidikan yang akan diterapkan di beberapa negara kecil dunia ketiga.

”We can’t forced our concept completely! They have local wisdom that we must admire!” teriakku terengah-engah.
“Why you wondering with our concept? Its the best educational system, result from Harvard?!” jawab James, atasanku yang mungkin sudah merasa bahwa aku sudah gila.
“American government interfere in that result, they have had a purpose which I don’t know…but I’m sure its not suitable for Tibet, Laos, New Guinea and also my country, Indonesia.”

“What you mean?! Your opinion isn’t reasonable!”

Dan bla….bla…..pembicaraan yang memuakkan.

* * *

Aku kembali meletakkan buku Laskar Pelangi di rak bukuku yang mungil. Sudah beratus-ratus kali aku membacanya. Dan kini aku semakin mengerti, bahwa tak ada yang mustahil dengan mimpi. Aku ingin seperti Ikal, bisa kuliah di Sorbonne, Prancis. Atau minimal kuliah di kampus seseorang yang telah memberiku buku ini, Kak Mita.

Aku sudah lama sekali tak tahu kabar Kak Mita. Entah dimana ia sekarang. Bagaimana keadaannya. Sudah menjadi apa. Sudah menikah atau belum. Aku tak tahu semua.
Kertas berisi alamat Kak Mita hancur dibakar oleh Saron, temanku sedari kecil. Saat itu aku benar-benar benci dan muak padanya. Aku menangis berhari-hari hingga aku sakit.

Untunglah aku mendapatkan alamatnya kembali dari Simbah Yusuf. Akupun langsung berusaha menghubungi, tapi tak nyambung. Aku juga berusaha menyuratinya, tapi tak pernah ada balasan.

* * *

”Hey! Where do you go?” tanya Linda melihatku yang tengah memasukkan helai demi helai pakaianku ke dalam koper.

“I wanna go home.” Jawabku singkat pada rekan satu apartemenku.
Linda bergidik dan tertawa kecil. Mengejek.
”Indonesia?! I thought you have forgetting your country. A stupid country….”

Aku langsung menatapnya tajam.
“Uhm…mmmm sorry, I don’t mean….”
Raut muka Linda tiba-tiba memohon ampunan dosa—seperti apa yang selalu ia lakukan di katedral, seminggu sekali.

“I miss my family. And…a little girl called Siti.”

Tanganku terus saja bekerja merapikan koperku. Lalu mengecek visa dan pasporku. Dan yang terakhir adalah berkas-berkas kerjaanku. James selalu saja punya cara untuk membuatku sibuk, bekerja tanpa henti. Ia memintaku untuk memimpin proyek hibah peningkatan kemampuan ekonomi perempuan Indonesia, khususnya di Jawa selama 2 tahun.

”I’m sure many local NGO will be interesting in there. You just open an announcement, do selection and review, very simple, isn’t?” kata-katany terus saja teriang-iang dalam otak kiriku.

Dasar James! Kapan sih orang gila itu membiarkanku mengambil cuti walau hanya seminggu saja?!

”Ok. Good bye, honey! Please come back! New York, Manhattan, Massachusetts, Cleveland will missing you!” kata-kata Linda mengiringi kepergianku di bandara.

Aku hanya tersenyum dan memeluknya.

”Please come back, Mita! I need you….so much!” teriaknya.

Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan.

* * *

Aku sulit melupakan sosok kak Mita. Badannya yang kurus, suaranya yang cempreng dan lelucon-leluconnya. Kak Mita selalu berusaha mengajar di TPQ setiap malam. Namun pernah, ia tidak datang karena sakit keras.

Kak Mita tinggal di desaku memang hanya dua bulan. Tapi entah mengapa itu sangat membekas sekali untukku. Walau ada kakak-kakak lainnya yang sebetulnya lebih menarik dari kak Mita.

Aku masih ingat, kak Mita berjanji akan datang kembali ke desaku ini lima tahun lagi setelah hari itu. Dan ia akan datang bersama suaminya untuk dikenalkan padaku. Eitss….tunggu! lima tahun itu adalah tahun ini!

Ya tahun ini! Tapi kapan? Bulan apa? Hari apa?

Ini sudah menginjak bulan September! Hanya tinggal tiga bulan lagi, tahun ini akan berlalu. Masihkah ia ingat akan janjinya?

Entah mengapa, lidahku kelu untuk menjawab Ya.
* * *

Satu hari dalam hidupmu mungkin saja akan mengubah ribuan harimu ke depannya. Percayakah itu?
Dan tak akan pernah direncanakan oleh dua manusia tersebut akan hari ini.
Tapi Tuhanlah yang berkuasa merencana, dan menjadikannya nyata.
Dua insan itu berpelukkan. Melepas rindu yang sudah hampir berkarat.
Saling menceritakan kehidupan mereka masing-masing.

Gadis kecil itu sudah memakai rok abu-abu. Ia sudah menjadi gadis remaja yang mengagumkan. Ia sudah berani mengambil keputusan tuk tetap sekolah di tengah teman-teman perempuannya yang terpaksa harus menikah.
”Sepertinya ada yang kurang, dalam janjimu ini?” tanya gadis kecil itu.

”Oya? Apa?” Si wanita muda berbalik bertanya.

“Suamimu mana?”
Si wanita muda tersenyum kecut. Tak menyangka gadis kecil itu menanyakan tentang hal itu.

”Hidupku begitu suck! Aku mungkin berhasil menggapai mimpi untuk bekerja di tempat yang kuimpikan. Tapi pekerjaan itu benar-benar merenggut kehidupan percintaanku.”

Gadis kecil itu terdiam.

”Tapi aku berusaha menikmati kesendirianku ini. Untuk saat ini.” kataku untuk menghiburnya. Dan kukatakan itu dengan penuh senyuman, walau sebetulnya hatiku sedikit tersayat.

”Tunggulah hingga esok ketika senja.”

Si wanita muda keheranan tak mengerti.

”Kumohon.”

* * *

Dan benar saja, ketika senja menyemburkan cahaya kemilaunya.
Awan yang tergores bak bulu angsa.
Puluhan merpati yang melengkapi suasana dengan kelincahan terbangnya, menjadi saksi.
”Aku datang. Tuk melengkapi janjimu.”
Suara yang begitu lirih namun begitu syahdu di dalam hati.

Si wanita muda mendongak ke arah suara itu. Seakan tak percaya. Namun, kedua kakinya tak kuasa tuk berlari ke arah itu. Arah suara itu. Suara seorang pria muda yang telah lama menghilang.
Pun tak kuasa berkata:
“Ya, akupun kembali.”

Kamar gadis biasa, 13 Agustus 2008

Masih terbilang dini hari

Dedicated for Siti Akhirotun Nikmah

Jodoh Anak Psikologi

August 11th, 2008 by umigita

    Semalem (9 Agustus 2008) habis dari
pernikahan Inne (temen IPS ketika SMA dulu_red) jadi kepikiran lucu tapi
terheran sendiri. Pasalnya, Inne tuh mahasiswi Psikologi dan tau gak si…suaminya
lulusan mana? TEKNIK! Teknik sipil.

 Hiiiii….ih!
udah berapa ratus aku nemuin anak lulusan psikologi mesti pasangannya anak
Teknik. Dosen-dosenku….suaminya banyak yang orang teknik. Dan udah jadi
sejarah turun temurun di fakultasku kalo dari dulu…anak psikologi tuh dapet
pasangan anak Teknik. Teknik lagi….Teknik lagi……

 Kata dosen….dan juga temen-temen,
anak psikologi emang pantes dapet anak Teknik soalnya saling bertolak belakang
sehingga mampu saling melengkapi. Anak Psikologi itu fleksibel banget…penuh
empati….dan punya perhatian ke sesama manusia tinggi (katanya…) karena
harus mengkonselingi dan mentreatmen orang, dari orang normal ampe yang sakit
jiwa. Nah, sedangkan Teknik itu orangnya selalu berkutat dengan alat atau benda-benda
mekanis jadinya mereka kaku gitu. Anak Teknik butuh anak Psikologi biar gak
terlalu kayak robot. Sedangkan anak Psikologi butuh anak Teknik biar gak
terlalu fleksibel kebablasen.

 Dari segi fakultas juga. Fakultas
Psikologi banyak perempuannya…dari dulu kala! Dan fakultas Teknik dari dulu
juga laki-laki semua. Ya udah pas kan…

”Hey…denger-denger
kamu dah punya gandengan nih…”godaku pada teman satu fakultasku pada suatu
hari yang aku lupa kapan.

”Ahhh…umi
bisa aja.” jawabnya.

”Anak
mana nih?” tanyaku lebih lanjut.

”He…he….he….TEKNIK…..”jawabnya
cengegesan, ”Maaf ya Mi, aku melanggengkan sejarah, sama anak Teknik. Awalnya
udah cari anak selain teknik sih, tapi gak tahu kenapa kog mentok sama anak
Teknik….”candanya

Ya
elah…..kenapa temenku ini malah minta maaf segala. Ya udahlah kalo emang udah
jodoh mau diapain lagi?! Ya gak?!

 Tapi ada juga segelintir cewek
Psikologi yang gak dapet pasangan anak Teknik. Tiga orang sobatku (Ifa,Iza dan
Nisa) dapet orang Sosial Humaniora (SosHum). Mungkin sobat-sobatku ini males
dan capek kali ya harus jauh-jauh ke fakultas Teknik. Ya udah deh…cari yang
se-lingkungan dan paling nyambung aja…SosHum, entah itu Fisipol, Ekonomi,
Filsafat, Budaya atau Hukum.

 Begitulah cerita yang jadi legenda
di fakultasku. Kini aku hanya tersenyum sendiri aja. Entah Tuhan akan
menjadikanku bagian dari legenda itu atau tidak (pasanganku anak Teknik), aku
tak ambil pusing. Jodoh itu siapa yang tahu. Mau sesama Psikologi,
se-lingkungan SosHum atau Teknik….biarlah waktu yang menjawab.

 

Kamar
gadis biasa, 10 Agustus 2008

Hari
menuju petang

Agama, Keyakinan dan Cinta

August 2nd, 2008 by umigita

Terkadang cinta hadir untuk perbaikan diri

Bukan untuk sepadang dengan orang yang kita cintai

Namun sebagai bentuk pembelajaran seorang insan pada Illahi

Dulu ketika tahun pertama kuliah, saya pernah bertanya apakah mungkin cinta antara laki-laki dan perempuan dapat sejalan dengan spiritualitas kita pada Tuhan?

Lalu dengan kecanggihan logika saya, saya menjawabnya sendiri, Tidak.

Bagi saya, tak mungkin ketika kita sedang dimabuk cinta oleh seseorang laki-laki tampan atapun perempuan cantik, kita bisa ingat dengan sang Esa. Pikiran kita sedang tak fokus.

Lalu saya pun membeli buku ’Di tepi sungai Piedra, aku duduk dan tersedu’ nya Paolo Coelho untuk mengetahui jawaban itu. Saya sendiri tak tahu mengapa membeli novel itu. Kata kakak angkatan, menarik. Ketika membaca ringkasan cerita di cover belakangnya, menarik. Sebuah novel yang menceritakan tentang dua orang sahabat kecil yang bertemu kembali ketika sudah dewasa. Sayangnya, mereka memiliki konflik pertemuan. Ya, mereka sudah saling berbeda ’dunia’. Si perempuan merupakan seniman dengan kehidupan malamnya. Sedangkan si laki-laki adalah pendeta yang tersohor karena khotbah-khotbahnya. Dan sayangnya lagi, ada cinta yang muncul diantara keduanya. Lalu mereka pun berbincang banyak akan agama dan keyakinan mereka terhadap Tuhan.

Dua kali membaca novel itu, saya tak paham jua. Hingga saya masih mempunyai jawaban TIDAK bahwa cinta antara manusia yang berlainan jenis itu tak ada korelasi dengan spiritualitas kita pada Tuhan.

Namun, kini….dengan sebuah pengalaman yang berarti. Saya merasakannya. Saya memang jatuh cinta pada seorang laki-laki. Namun, saya merasa malu dan merasa tak cocok dengannya karena keadaan kami seperti dua tokoh di novel tersebut.

Hingga saya merasa sadar, bahwasannya ada pekerjaan rumah yang lebih besar bagi saya karena cinta ini. Yaitu agama dan keyakinan saya sendiri terhadap Tuhan. Itulah yang harus saya pikirkan dan lakukan dibandingkan saya harus mengejar-ngejar dan mendapatkan cinta dari laki-laki tersebut. Walau tak munafik juga bila terkadang saya juga merasakan rindu padanya, ingin bersamanya dan rasa-rasa laiknya perempuan normal lainnya ketika jatuh cinta.

Akhir kata, dari semua komplikasi jiwa itu, saya merasa bersyukur karena mungkin bila saya tak merasakan hal ini, saya mungkin tak pernah yakin bahwa: agama, keyakinan dan cinta itu berada dalam satu garis lurus.

Kamar gadis biasa, 1 Agustus 2008

Malam yang khidmat ditemani secangkir kopi

….Dan aku akan terus menulis

August 2nd, 2008 by umigita

seperti mata pedang bersinar dikedua sisinya
kau adalah pejuang tinta yang tiada terkira hebatnya
tak pernah ku lihat ketegaran yang kokoh dari seorang wanita
tak pernah ku lihat pula semangat yang lebih membara
ia adalah mimpimu sahabat
biar kau pernah terjatuh sekali, dua kali atau ribuan kali
tetap saja, kau wanita terkuat yang pernah ku kenal
adakah ku salah mengenalmu
aku rasa tidak
jauh didalam hatimu ingin kau bangun kalimat dakwah
yang akan mencerahkan dunia
bangunlah
jangan lari dari takdir yang telah tertulis
dan jika nanti semua orang telah mati dengan senyuman
maka dijarimu masih tersemat pena yang bernama impian
dan selembar kertas bernama kehidupan

            Begitu terenyuh jiwaku membaca kata demi kata puisi itu. Padahal itu hanyalah sebuah komentar dari seorang kawan sejak aku masih memakai putih abu-abu hingga kini. Kawan yang mengetahui mengapa aku tiba-tiba menulis blog untuk berhenti menulis.

            Yah, memang kasus ini seharusnya membuatku banyak belajar. Bahkan terus belajar. Tentang dunia kata dan segala isinya. Bahwasannya ia tak hanya menawarkan sebuah kebebasan, namun sebuah tanggung jawab yang mengikuti titihan tinta pena itu.

            Benar juga. Kekuatan pena itu memang ada. Ia mampu mengubah banyak hal di dunia ini dalam satu waktu. Namun pena itu sendiri laiknya pedang yang mempunyai ketajaman di kedua sisinya. Ia dapat digunakan untuk membunuh orang lain atau sang pemakainya sendiri. Begitulah tulisan, memberikan suatu yang mencerahkan atau menyesakkan. Membuat orang lain bahagia atau sakit hati.

Dan yang pasti, apakah tulisan itu untuk membangun peradaban ataukah menghancurkannya.

Kesemua itu merupakan sebuah pilihan bagi sang penoreh tinta. Kesemua itu bergantung pada niat dan kepiawaian sang penulis.

            Dari semua hal yang kutemui, aku akan terus menulis. Biarpun jatuh dan hancur lebur berjuta-juta kali, ku tetap akan menulis. Dan sekalipun ribuan badai yang masih terencana untuk datang, aku akan terus menulis. Karena ku tak ingin lari dari takdir hidupku. Sebuah takdir yang ku begitu mencintainya.

            Mulai saat ini. Dari apapun jua. Dan aku akan terus menulis.

Kamar gadis biasa, 1 Agustus 2008

Tengah malam

Ps: Novel tentang ’pengalaman itu’ akan tetap kubuat. Tentunya dengan tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.

Press Release

July 30th, 2008 by umigita

Permohonan maaf atas tulisan “65 hari di Kalianyar (bagian pertama, kedua
dan ketiga)”.

 

 Dengan tulisan ini saya,
Umi Gita Nugraheni selaku penulis ”65 hari Di Kalianyar” dan pemilik blog www.umigita.multiply.com memohon maaf
pada semua pihak yang merasa kecewa dan tersinggung atas isi dari tulisan
tersebut. Ini merupakan kekhilafan saya dimana saya masih harus belajar menulis
dan etikanya.

Tak ada sedikitpun niat atau maksud untuk
menjelek-jelekkan ataupun merendahkan orang lain atau pihak tertentu dalam
pembuatan tulisan tersebut. Tulisan tersebut murni dari hati dan pikiran saya
yang bahagia dan mencintai pengalaman saya ketika melaksanakan KKN UGM di desa
tersebut.

  Semoga dengan permohonan maaf ini dapat
memberi kejelasan atas masalah persepsi semua pihak akan tulisan tersebut. Saya
paham bahwa permohonan maaf saya dan penghapusan tulisan dari blog saya,
tidaklah cukup untuk mengobati sakit hati atau kekecewaan karena tulisan saya
itu.

Saya akan berusaha menerima apapun konsekuensi
dari apa yang telah saya tulis. Namun, saya berharap agar tulisan saya tidak
dikaitkan dengan kegiatan KKN UGM karena itu murni pendapat subjektif saya
sendiri.

 

 

Sleman, 30 Juli 2008

Tertanda,

 

Umi Gita Nugraheni

Standchen 28-29 Juli 2008

July 30th, 2008 by umigita

Standchen dari Schubert mengiringi kembali kegetiran hati.

 

Dua hari itu hatiku pedih dan pilu. Pikiranku syok dan tak
habis pikir.
Jiwaku tertekan begitu dalam. Rasanya hanya ada perasaan
hancur. Luluh. Bersalah dan tak berguna.

Mengapa aku sebagai mahasiswa
sosial humaniora di tim KKN ku malah membuat masalah sosial. Dan lagi masalah
itu muncul karena tulisanku sendiri.

Tulisan. Yah aku mencintai itu.
tulis, menulis, dunia kata…..aku mencintai itu semua. Karena di dunia itulah
aku dapat jujur apa adanya. Mimpiku adalah aku menjadi seorang penulis yang
dapat menghasilkan buku yang memberi inspirasi banyak orang. Seperti Paolo
Coelho dan Andrea Hirata.

Tapi mengapa fakta berbicara
berbeda. Tulisanku hanya membuat orang se-desa marah dan tersinggung. Kamu
terlalu vulgar dan subjektif sekali. Baiklah memang tulisan itu penuh dengan
opini dan perasaanku. Tapi lihat dunk dimana aku mempublishkannya? DI BLOG!

Sepengetahuanku, blog merupakan
tempat orang mengungkapkan gagasan, perasaan, ide dan ekspresi secara bebas.
Blog merupakan diary online dimana umumnya diary sifatnya personal, dengan blog
menjadi suatu ruang publik. Inilah salah satu poduk globalisasi dimana sekat
antar individu sudah kabur.

Sepengetahuanku, belum ada
aturan khusus dan baku tentang etika penulisan di blog. Berbeda bila kita
menulis di media massa semacam koran dan televisi. Pun beda untuk sebuah
penelitian. Dan aku cukup belajar tentang etika penulisan itu.

Jujur, aku merasa kesal karena
aku merasa ’ini hak’ ku untuk mempubliskannya di blog milikku sendiri. Ada kog
orang yang bikin blog isinya menjelek-jelekkan Islam, Indonesia sampe presiden
BUSH…yah palingan cuman disebarin ke blog lainnya kalo blog ntu isinya cuman
njelek-njelekin doank. Parah-parahnya ntu blog di blokir!

Tapi apa yang terjadi padaku?
Aku harus bertanggung jawab, meminta maaf ke seluruh warga desa (pake
konferensi pers kali yeeee….) dan menghapus tulisan itu. Seluruh warga desa
marah dan tersinggung. Dan dampaknya adalah mereka benci dengan KKN UGM. Persepsi
mereka tidak akan baik lagi.

Baiklah….ketika memang
dampaknya seperti itu, aku akan melakukan apa yang diharapkan oleh
teman-temanku. Untuk menembus rasa bersalahku juga. Aku juga sudah terima apa
yang harus kudapatkan karena tulisanku itu, entah bonyok karena digamparin, di
caci maki ampe kagak boleh datang ke desa itu lagi….aku terima. Walau mungkin
pedih rasanya, karena desa itu penuh dengan kenangan dan pembelajaran hidup.

Tapi kenapa gak ada yang ngerti
perasaanku. Ngerti bagaimana tertekannya aku. Aku gak bermaksud untuk
menjelek-jelekkan desa itu. Bahkan sebaliknya, aku begitu senang dan bahagia
selama disana. Karena kebahagiaan itu, kutuangkan ke dalam tulisan. Bahkan
suatu saat nanti akan kujadikan novel. Tapi itu semua pupus sudah. Saking jatuhnya
aku, aku beniat untuk berhenti menulis. Karena percuma saja, tulisanku hanya
menjadi sesuatu yang kontroversial.

Begitu juga dengan kemampuan
ilmuku. Mahasiswa psikologi konsentrasi sosial kog malah mengacaukan sosial
masyarakat?! BEGO BETUL kan!

Tapi ya sudahlah……kini
semuanya sudah harus berakhir. Aku sudah melakukan self help dengan mentalku
sendiri. Aku sudah di dukung sama sahabat-sahabatku di psikologi. Dan tentunya
teman-teman KKN ku tidak meninggalkan ku sendirian dalam masalah ini.

Yang jelas kini….aku sudah
berusaha menstabilkan mentalku lagi. Aku harus berdiri tegak menghadapi masalah
ini. Bahwasannya, setiap gagasan dan karya selalu akan ada respon yang positif
dan negatif. Selalu akan ada yang pro dan kontra. Selalu akan ada orang yang
suka dan tidak suka. Itu sangat wajar.

Ini bukanlah akhir dari apa yang
harus kulakukan ataupun kuperjuangkan. Ini hanyalah sebuah jalan yang harus
kulalui untuk menjadi penulis dan psikolog sosial yang keren di kemudian hari.

Insya Allah aku gak akan
berhenti menulis. Apapun yang akan terjadi, aku gak akan berhenti menulis.
Namun dengan kejadian ini, setidaknya memberikan pembelajaran instrospeksi diri
bahwa aku harus inget dampak yang akan terjadi dengan adanya tulisanku. TAPI
TETEP JANGAN PERNAH JADIKAN KENDALA UNTUK MENULIS!!!!

Aku gak akan lari dari semua
masalah ini. aku harus FIGHT!!! Karena bukan Umi Gita Nugraheni namanya kalo
gak fight!

 

Standchen 28-29 Juli 2008,

Semoga keinginanku tuk lari dan
pergi dari masalah dan kegetiran hati ini tercekat olehmu, sahabat. Terima
kasih.

Berhenti Menulis

July 28th, 2008 by umigita

Jiyue berkata padaku. disaat aku jatuh. jatuh sakit. tapi bukan sakit fisik.
"Udahlah
berhenti aja kamu nulis. udah lupain deh buat jadi penulis. orang
sekalinya nulis, cuman di blog pula-yang semura orang tahu kalo yang
namanya blog ntu bebas banget, elo cuman bisa bikin orang tersinggung."

aku hanya terdiam.

"Tulisan Loe tuh ya cuman bisa bikin orang satu kampung marah. udah deh…lupain aja buat nulis lagi!"

aku hanya terdiam.

"Dulu
juga…tulisan loe cuman bisa fakultas kebakaran jenggot! nah sekarang
loe udah bikin satu kampung ancur, tau gak lo! mampus lo kalo lo berani
kesana lagi! mampus juga lo udah ngancurin harapan temen-temen lo! PUAS
LO, UMI GITA?!! PUASSSS?!!!!!"

aku terdiam dengan derai air mata.

"Udah
deh….gak usah nulis lagi. dan minggat aja lo ke luar negeri. ke eropa
ato amrik dimana lo bisa bebas teriak sesuka lo! gue temenin!"

aku terdiam. mungkin bener juga…minggat dari Indonesia!
Tapi aku masih bisa nulis kan…..masih bisa nulis kan…aku berdoa penuh harap.
"Jiyue, nulis itu udah kayak nafas gue. walau gue belum punya buku sekalipun."

"Terserah elo…asal jangan ampe ngebuat runyam dunia aja. udah cukup satu kampung aja."

aku menganguk….
"Mi…kalo kamu bisa ngelewatin ini, kamu hebat." kata-kata Mba Desi si penulis terkenal menari-nari dalam hatiku.

Kematian itu pasti, tapi….

July 18th, 2008 by umigita

Bisa anda bayangkan bagaimana tiba-tiba di suatu ahri yang
cerah, seorang dokter mengatakan bahwa anda sudah tidak dapat hidup lama lagi.
Itulah
sebuah vonis mati karena anda mungkin menderita sakit kangker otak yang amat
parah atau leukemia ataupun jantung koroner. Tentu anda akan kaget bercampur
sedih. Anda pasrah tanpa ada tendensi gairah. Namun, dalam lubuk hati anda,
pasti ada rasa brontak untuk tidak menerima keputusan vonis itu. Bahkan anda
bukan tidak mungkin akan melanyangkan protes pada Tuhan, sang pemilik nyawa
mengapa anda harus mengalami hal tersebut. Ataupun bila anda memang orang yang
dekat dengan Tuhan, minimal sedikit protes pada dokter yang membuat vonis itu.

 Mungkin
satu paragraf diatas mewakili perasaan Sumiarsih, Sugeng, Imam Samudra, Amrozi,
Usep dan kawan-kawannya yang akan menghadapi eksekusi hukuman mati. Walaupun
mereka sadar bahwa hukuman itu setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan,
tapi tetap saja ada rasa tidak menerima atas hukuman tersebut. Mungkin
logikanya adalah mereka harus menerima kematian yang itu adalah keputusan
manusia, sesosok mahkluk yang sama dengan dirinya. Mereka tidak menerima
kematian itu dari Tuhan.

 Tapi
bukankah apa yang telah mereka (terdakwa_red) lakukan sama saja? Mereka juga
membunuh orang lain, sesama manusia?! Sehingga kematian orang lain itu juga
bukan keputusan Tuhan, melainkan manusia; yaitu mereka yang membunuhnya.

 Hukum
’nyawa dibayar nyawa’ memang sungguh kontroversial di muka bumi ini. Ada yang
berkata bahwa itu tak adil dan menyelesaikan masalah, karena sudah cukup bila
si pembunuh itu disiksa hingga ia menemukan kesadaran diri, menyesal dengan apa
yang telah dilakukannya, kemudian melanjutkan hidup dengan bermanfaat bagi
masyarakat. Namun, ada yang mengatakan bahwa itulah keadilan sebuah hukum yang
tegak. Karena hukum sebaiknya tidak mengenal kompromi dan fleksibelitas untuk
mengatur roda kehidupan manusia.

 Tapi
mungkin ada baiknya juga bila kita mengkaji konsep ’pembunuhan’. Mengapa?
Menurut saya, begitu banyak tindakan melanggar hukum yang termasuk kategori
’pembunuhan’ walaupun itu tak berdampak meninggalnya seseorang secara fisik.
Namun ’pembunuhan’ yang mengakibatkan matinya seseorang bahkan masyarakat
secara kesejahteraan hidup, mental bahkan masa depan. Pembunuh itu bernama
koruptor dan para pelaku kebijakan yang membuat banyak orang bagai daging yang
bisa berjalan dan punya nama tapi sesungguhnya mati. Mati karena hidup susah.
Mati karena potensi manusianya hilang oleh sistem. Karena sistem yang terbuat
itu milik para ’pembunuh’ itu.   

Demi Skripsi dan Sahabat

July 7th, 2008 by umigita

Sepengal kisah nge-gembel di Istora
Senayan

Sabtu, 5 Juli 2008

 Siap!
Hari ini harus sukses. Hari ini aku harus ambil data lagi, wawancara subjekku.
Gak main-main wawancaranya di Gelora BungKarno Istora Senayan. Mungkin banyak
temen se-fakultasku akan berfikir kayak gini: ngapain juga yak wawancara buat
skripsi doank sampai sejauh ntu? Ampe harus ke Jakarta segala? Nyusahin diri
aja.

Whattever lah! Padahal emang sih,
rasanya pengambilan dataku cemen begitu! Entahlah apa kata professor Koentjoro,
sang dosen pembimbingku nanti. Sepertinya aku akan banyak ber-argumen dibauri
pengototan debat agar aku gak ambil data lagi. Soalnya kalo masih dibilang
datanya kurang dalam-lah, cemen lah…kapan gue lulus?!

 Kembali
ke hari sabtu kemaren. Kan gue (duh kog kalo di Tengerang, bawaannya ngomong
gue-elo gini yak?!) janjian ma subjek untuk wawancara di Istora Senayan (ya
elah…diulangin lagi! geblek!)karena disana ada acara pesta buku Jakarta. Dan
sang subjek salah satu pengisi acara di sana (ya iyalah…secara beliau penulis
gitu…). Janjian jam 11 siang. Ok, aku berangkat ma 2 orang sobet eh sobat
sedari SMP….jreng-jreng…Mahe dan Tiyas! Gile…Smarty bisa ngumpul lagi nih…cuman
kurang si Dela ma None doang. Kita naik KRL ekonomi yang jam 10.00 WIB dari
stasiun Serpong. Sepanjang perjalanan kita masih aja kayak dulu….ngebanyol dan
ngikik ria abis! Masih aja si Tiyas yang harus kita perlakuin bak ratu, duduk
di kereta yang cukup penuh, soalnya saking pendeknya dia gak nyampe buat
pegangan di pegangan KRL ha ha ha…..

 Sampailah
di stasiun Palmerah…jalan kaki menuju Senayan. Jauh juga ye….dan tetep….sembari
jalan…kita bertiga ketawa-ketiwi gak jelas gitu, mana si tiyas mau-maunya ke
ngegodain polisi…trus si Mahe ngebales nyapa mbak-mbak dan ngomong-ngomong, pas
kita tanya, “Siapa He?” si Mahe dengan santainya njawab, “Gue juga gak kenal.”

GUBRAK!!! Dasar sinting sobat gue
satu ini ha ha ha….

 Sampe
di tempat acara (setelah perjuangan jalan kaki dan kebingungan karena banyak
banget acara yang digelar si Senayan, ada event bola, ada event anak dari
BlueBand, sampe para pendatang yang tinggal tanpa rumah di sekitar stadion…hiks
menyedihkan!), aku langsung ngabur nyari stan salah satu penerbit, tempat
janjian dengan subjek. Ternyata gak gampang bow! Tiga kali keliling, gak
ketemu-ketemu juga. Nanya bagian informasi terus. Eh ketemu ma ortu dan adek yang
ternyata masih di Senayan belum ke Tanah Abang, ya udah minta duit bokap dunk
buat blanja buku, asiiiiikkkkk tapi uang saku bulan depan pasti dipotong ha ha
ha…..

 Akhirnya
ketemu juga ntu stand. Sms sang Subjek….ternyata masih dalam perjalanan. Ya
udah muter-muter dulu aja bareng 2 sobat ntu, beli-beli buku. Sampe kita
bertiga makan dan sholat, sang subjek belum datang. Akhirnya udah setengah dua
siang, Mahe memutuskan pulang karena kerjaan skripsinya blon selesai. Dan aku
menyuruh agar Tiyas juga pulang supaya dia gak kemaleman. “Lo ngak pa-pa Mi,
sendirian?” Tanya Tiyas dengan rada cemas.

“Gak pa pa, yas. Tenang aja. Gue
palingan wawancara setelah jam 15. trus palingan gue naik kereta yang jam 19.”
Jawabku mantap, padahal si duh…..ngeri juga naik kereta malem lagi…Huk…huk…tapi
mau gimana lagi? Demi Skripsi!

 Setelah
say goodbye ma dua sobat ntu, aku langsung ngikutin dan ngerekam acara yang
pembicaranya adalah subjek penelitianku. Setelah acara selesai, aku langsung
mendekati beliau dan kami wawancara di warung makan kaki lima di sekitar
Senayan. Gak lama, 30 menit doang. Soalnya beliau ngomong, “Apa lagi sih yang
kurang, kayaknya udah saya jawab semua?!”

Jleb…jleb….mati kutu gue! Tapi yah
biarlah…maju terus!

Setelah ntu…kembali lagi jalan-jalan
di pameran buku…gile…lumayan banget diskonnya. Kebelilah beberapa buku-buku
yang jadi inceran selama ini. Sama beliin buku buat Rizki yang udah bantuin
penelitian sama Nisa, sobat di Psikologi yang pas ultah daku lupa ngucapin dan
ngasi kado (kejam ya gue ini….abis waktu itu lagi KKN sih…).

 Tiba-tiba
di stan Mizan, aku mau beli Edensor nya Andre Hirata, lho kog ada rame-rame?
Yak ampun, ada mbak Helvy Tiana Rosa dan Mbak Asma Nadia. Wah dah lama gak
ketemu semenjak Munas FLp tahun 2005 di Jogja. Masih inget aku gak ya? Ya
enggaklah, waktu tahun 2005 ntu kan aku masih culun dan cemen banget di FLP
(walau sekarang juga masih sih cos belum punya buku ha ha ha….). Trus tiba-tiba
terbesit pengen beliin buku karya mbak Helvy buat Nisa, trus di tanda-tangani
mbak Helvy. Secara kayaknya Nisa suka buku-buku karangan Mbak Helvy juga. Ya
udah aku langsung aja, eitsss….lho kog uang gue ngepas banget? Cukup kagak ya?
Abis duitnya udah abis buat beli buku yang lain juga. Gimana nih…beli
kagak…beli kagak…kalo beli, uang gua tinggal 500 perak. Gue gak tau di mana ATM
terdekat. Kalo gak nemu ATM, gue gak bisa pulang. Gue resah dan cemas…mana Mbak
Helvy berkoar-koar kalo gak lama-lama di Senayan. 

“Udahlah…beli aja. Masalah uang buat
pulang ntar cari ATM, mau jalan berapa kilo pun. Ini buat Nisa, gila! Sobat
baik gue selama ini!” Teriak gue dalam hati.

 Akhirnya
aku beli buku mbak Helvy yang terbaru judulnya “Risalah Cinta Untukmu.” Setelah
bayar di kasir, ucluk..ucluk…ucluk aku deketin mbak Helvy. Gue diem bentar
mandangin mbak Helvy…gak berubah sedari tahun 2005, stylenya khas dan
keren…muslimah yang sporty! Gue suka.

“Mbak Helvy…saya dari FLP Jogja.”
Kataku.

“Siapa namamu?” Tanya Mbak Helvy
dengan senyum.

“Umi. Emmm…ini buku tolong di tanda
tangani, tapi ini untuk sahabat saya.”

“Siapa nama sahabatmu?”

“Annisa Miranty.” Jawabku singkat.

Langsung aja Mbak Helvy menuliskan
nama ‘Adinda Annisa Miranty’ di halaman pertama buku itu dan men-tanda
tanganinya.

“Makasih ya, siapa namamu?” Tanya
mbak Helvy kembali, kali ini rasanya ada suatu pandangan yang cukup tajam.

“Umi.” Jawabku singkat dan aku
langsung pergi.

 SUMPAH!
Gue lega banget! PUAS banget! Rasanya gua abis ngelakuin sesuatu yang berarti
dengan kekuatan persahabatan. Wajah dan keceriaan si Nisa menari-nari di
pikiran gue. Wah rasanya kangen banget ma dia, pengen balik ke Jogja dan
memeluknya. Tentunya sambil ngasih buku itu ke dia.

 And
What happen after ‘my crazy thing’?

GUE NGE-GEMBEL!!!

Jalan sendirian sekitar 5 kilo buat
cari atm. Sore-sore menuju magrib…gue jalan kayak orang sedeng aja ditemani MP3
dengan lagu-lagu kesukaan gue. Ngelewatin gerombolan cowok…digodain…kagak
peduli. Dan sumpeh deh…Nauzubillah…jauh bangettt….dari tempat pesta buku yang
di tennis Indoor menuju JCC cos atm terdekat ada disitu, abis ntu masih jalan lagi
menuju stasiun Palmerah. Ni kaki rasanya mau putus!

 Tapi
yah dinikmatin aja…emang mungkin gini kehidupan di Jakarta kalo kita bukan
orang yang ‘punya’. MP3 terus mengalun, Senja pun menampakan kehangatannya
dengan begitu memerah jingga, mengiringi langkah-langkahku. Sesekali ber-sms
ria dengan Anis, ha ha ha dia juga bilang kalo aku rada gila buat jalan sejauh
ntu. Eh lewat tempat latihan PSSI, ada yang main bola disana, timnas lagi
latihan kali. Ehm..kog jadi inget seseorang di Jogja sana ya? He he he….

 Akhirnya
sampe juga di stasiun Palmerah saat adzan Magrib. Langsung aja beli tiket ma es
krim (beli es krim cuman buat nuker duit jadi kecil aja sih…). Naik KRL yang
jam 18.10…sesekali ada sms dari Tiyas yang bertendensi khawatir karenaku. Akh,
dia emang gak berubah dari dulu kalo masalah pergi sendirian. Alhamdullilah KRL
pun melaju. Kupandangi pemandangan dari jendela yang ditawarkan seiring laju
kereta. Dari jalanan Jakarta dengan Kopaja-nya, rumah kardus dan triplek yang
kumuh, gedung-gedung mall dan pertokoan hingga kuburan Tanah Kusir. MP3 ku
masih saja terus mengalun…. 

 Petualanganku
berakhir ketika KRL berhenti di stasiun Serpong. Akh,rasanya kepuasan
tersendiri bisa ngelakuin sesuatu dengan sepenuh hati buat skripsi, apalagi
untuk sebuah persahabatan. Badan penuh keringat dan kaki mau putus, rasanya gak
bisa ngalahin kepuasan bathin ini. Dan malam itu ditutup dengan manis oleh
seseorang yang meng-sms…seseorang itu juga yang mendapatkan cerita ini untuk
pertama kalinya. Eh tak lupa dengan sajian Kick Andy dari Metro TV dalam rangka
peresmian the election channel he he he….